Saturday, April 16, 2005

GERHANA NURANI

dor ! dor !
tratatatatatatat !!!
buuum !!!
ngoeeeeeeeeeeeeeeeeng !!!
dor ! dor !
tratatatatatataatatatat !!!

mesiumesiu
mesinmesin
darah
airmata
amarah
trauma
kebanggaan
kebengisan
kengerian
ketakutan

dor ! dor !
tratatatatatatat !!!
buuum !!!
ngoeeeeeeeeeeeeeeeeng !!!
dor ! dor !
tratatatatatataatatatat !!!

pabrik pencabut nyawa
tenggelamnya perahu nurani
di samudera tawatangisdendambenci
kegelapan menggulung apasaja

hancurkan !!!
bunuh !!!
bumihangus !!!
jangan… toloooong…
jahanam bala malaikatmaut !!!
orangorang zalim !
hebat sekali !!
aaargh !!!

dupa duka kepulkan asaphitam
tubuhtubuh beku, tubuhtubuh mengeluh
serpihanserpihan daging berserakan
aroma kematian semerbaki paruparu
puingpuing bendabenda
kerusakan dimanamana
erangkesakitan merenggas nafas
sumpahserapah melimpahruah
pabriksenjata pada masa subur
terus lahirkan alatalat cabut nyawa
hidup atau mati tergantung mesiu
sebab tuhan telah terbunuh di hati orangorang

DUAR!!!!

*******



SAMPAI KAPAN ?

ketika para walet ejek estetika kota
tambangliar lecehkan ekologi daerah
limbah industri gerogoti mutu lingkungan
malpraktek pembangunan kian marak

sampai kapan
kita katup mata
tutup telinga
sumbat hidung
sumpal mulut
bungkus kulit
bungkam nurani
hingga materialisme menghamili egoisme
lalu lahirkan selaksa sesal kutuk tiada akhir ?

*******
maret 2005



KEBERSAMAAN YANG TERSAYAT

Obrolan kita tentang kebersamaan
Sebaiknya ditunda hingga…
Entah kapan

Rupanya perbedaan kacamata
tentang tuhan
Tuhannya, tuhanku, tuhanmu, tuhan mereka
Tuhantuhan tuhantuhan
Masih memprihatinkan
Penghinaan demi keunggulan suatu ketuhanan
Berlanjut dalam perbincangan missal

Obrolan kita tentang kebersamaan
Sebaiknya ditinjau ulang
Sebab penghinaan dilakukan dalam kesadaran
Padahal tuhanku, tuhanmu, tuhannya
Adalah tuhantuhan impor
Alias bukan bikinan dalamnegeri
Kita bangga pada adopsi
Kita malu akui tuhan buatan nenekmoyang kita

Maka kampanye janjijanji surga
Surga ciptaan masingmasing tuhan
Entah jadi nirwana, firdaus, taman eden atau apa
Bisa berdampak neraka bagi yang lain
Lebih daripada obrolan kita tentang bencana

***



GANYANG MINYAK SIAK !

Masih teringat,
Tahun 2003 aku mudik
Setelah 8 tahun di rantau
Rintik hujan tiada henti
Aku antri minyak tanah
10 liter per keluarga
Dalam jangka satu bulan

Tahun 2004, kudengar
Orangorang kampung kami
Tetap antri ambil jatah
10 liter per keluarga
Dalam jangka satu bulan

Tahun 2005
Harga BBM naik
Oh!
Jangankan harga naik
Harga biasa saja minyak langka

Lantas kubaca, kudengar, dan kulihat
Prajurit-prajurit siap senjata
Ganyang Malaysia
Di perairan penuh minyak

Kepada TNI dan POLRI
Selamat bertugas di sana
Tuntutan utama: bela negara

Aku dan warga kampung
Hanya bisa mendoakan
Sembari antri minyak tanah
Yang nyaris punah di kampung kami
Tuntutan utama : perut keluarga
Apakah jaman akan mundur
Masak pakai kayu
Hutan gundul, bukit gundul
Pakarpakar gusar
Padahal kebunkebun jadi perumahan

Sampai kapankah
Kami harus antri minyak tanah?

*******
9 maret 2005



ANDA ATAU SAYA

Anda tidak nasionalis
Acuh tak acuh pada agresi negeri jiran!

Weh. Apa iya?
Saya sedang mikir
BBM naik, kendaraan di rumah bagaimana
Harga-harga ikut naik, tapi gaji tidak naik
Masih bisa antri minyak tanah lagi, nggak?
Kata koran, minyak tanah langka

Anda hanya memikirkan rumah Anda!
Anda tidak memikirkan negeri kita…

Apa ya salah dan berdosa
Jika saya mikir situasi rumah saya
Situasi yang realistis
Apa situ pernah antri minyak tanah?

Anda tidak peduli pada perkara bangsa
Perkara pribadi saja yang Anda pikir

Eh, pahlawan kesiangan!
Kalau saya peduli urusan luar negeri
Apa situ mau peduli urusan pribadi saya?
Kalau saya ikut campur urusan tentara
Apa situ sudi nanggung ekonomi keluarga saya?

Anda membiarkan negara kita digerogoti?
Lamalama tinggal sejarah saja?

Waduh, situ malah mendoakan yang tidaktidak
Ikut angkat senjata, begitu?
Kan sudah ada tentara dan polisi
Mereka punya dan biasa pakai senjata hebathebat
Tugas utama mereka bukan menjaga pawai di jalan, kan
Apalagi, katanya, ributnya di laut sana
Sedangkan kita? Parang dan bambu runcing?
Waaah… jadi ingat perang jaman dulu
Tapi saya tidak bisa berenang nih!
Mosok perang naik bebekbebek karet?
Ah, situ malah nambah beban pikiran saya saja!
Pusing, harga pada naik dan minyaktanah di mana
Udah ah, saya pusing sungguhan nih!

*******
9 maret 2005



WAMIL !

Wamil!
Wamil!

Waduh, ribut lagi!
Siapa sih?!

Wamil!
Wamil!

Wajah kriminil?
Operasi penjahat?

Wamil!
Wamil!

Ooo.. Wanita hamil?
Lumrah, bukan pria

Wamil!
Wamil!

Wajib hamil?
Adaada saja

Wajib militer!
Segera!

Sabar sebentar dong
Ada TNI dan POLRI

Oh ya?
Kenapa begitu?

Mereka terlatih
Siap tanding

Wamil!
Kapan wamil?

Kalau memang TNI dan POLRI habis di sana
Barulah kita pertimbangkan wajib militer itu

*******
9 maret 2005



FRUSTASI BBM

butuh kompensasi!
aku frustasi
pemerintah tuli
bbm makan hati

maka aku lantang
teriak menantang
ganyang malaysia!
cincang tanpa sisa!

mari perang
tebas nyawa melayang
sembari membayang
bbm berkepala tuli
remuk kita pukuli

bajingan perampok
bangsat penindas
hajar sampai kapok
habiskan tanpa bekas
otak rongsok bosok
kita berantas tuntas

mari perang
marilah perang
maju bersama
mati bersama

*******
10 maret 2005



BIANG BENCANA

limbah buyat
sampah cimahi

: kitalah biang bencana

*******
3 maret 2005



GUNUNG SAMPAH MELETUS

mereka bangunkan gunung di cimahi
dari timbunan, gugusan sampahkota
merentang, menjulang
menganiaya hidup dan estetika
menelikung lingkungan dan ekologi
kebusukan menusuk hidung dan udara
mereka tak peduli

ketika gunungsampah itu meletus
laharnya melahap ratusan nyawa
siapa sepatutnya kecewa pada siapa
siapa sepatutnya marah pada siapa
siapa sepatutnya tuntut siapa

mereka bangunkan gunungsampah di lain tempat
sampahmasyarakatkota mengepung kampungkampung
alangkah angkuh, sombong merongrong

akankah kita biarkan gununggunung itu ikut meletus
meringkus nyawa para sanaksaudara
lantaran kita tak becus mengurusi sampah
tak mau tahu teknologiolahsampah
abaikan nasehat pakar lingkungan
kecerobohan pun berlanjut terusmenerus

*******
akhir februari 2005

Wednesday, February 16, 2005

Dalam Dekap Dingin Dini

kopi sudah ditaklukkan dinihari
dingin sunyi gerayangi gugupjemari
membidik namabidadari dan nomorjanji

cacha, 0813 sekiansekian
dessy, 0812 sekiansekian
lily, 0815 sekiansekian
nelly, 0813 sekiansekian
pinky, 0815 sekiansekian
yeyen, 0815 sekiansekian
rena, 55 sekiansekian

intelektualmuda bertarif semieksekutif
tanpa kompromi diskon atau harga spesial
kaliurang, parangtritis, ruangruang berprivacy tinggi
senyum konsumen adalah sukses bersama

telponseluler menanti tekanan angka aksara
dada berdebardebar bukan garagara kopi
tapi antara ujinyali, nafsu, tualang, eksperimen
terbentur realitas kondisikantongkosong

*******
babarsariyogyakarta, 15 februari 2005

Saturday, February 12, 2005

Pada Batas Kesadaran Diri

pada batas kesadaran diri
di antara taman bunga dan semak berduri
di antara saudara sejati dan srigala berbulu domba
di antara kawan dan khianat yang mengaku hamba
sayupsayup sabda bergema di persada
anjurkan diri dan siapa untuk kembali waspada

pada batas kesadaran diri
panas emosi, dingin nurani
saat pedangtajam dalam genggaman
di hadapan orangorang berdua haluan
yang mengidap dendam kesumat
karena etnisitas sakit sekarat
tapi menyandang sayap malaikat
menganggap diri telah dewasa
namun menyebarkan katakata berbisa

pada batas kesadaran diri
antara kasih, dan martabat insani
dikipasi sayapsayap duplikat
maka apologi menjadi siasatsesat

pada batas kesadaran diri
realitas paling hakiki
tergambar pada bidang cermin
: diri siapa, nyata dan batin
bukan apa yang mereka kata
atau apa pula yang diterka
sebab mata bisa dibuta
suka apa, sebab apa, demi apa

*******
babarsariyogya, 12 februari 2005

Thursday, February 10, 2005

KUACUNGKAN PEDANGKU
: kepada Saumiman Saud

tak usah mengklaim diri telah lahirbaru
dan Roh Kudus bungkusi hidupmu
hukum kasih menjadi nomor satu
jika ternyata kau masih menderita
keakutan sakit prasangka SARA
dan mudah tersulut rasa curiga

maka jujur aku berujar
bahwa emosiku telah kaubakar
dengan tuduhan dan kepongahan
kedewasaanmu di persimpangan

ya, sesungguhnya aku marah
tapi kau tak usah berkilah
karena kilahmu ternyata bawa bala di sisi
seorang banci pun masih punya nyali

aku memang orang kampung
tapi kau tak lebih daripada pejantan tanggung
menulis tuduhan bertabur fitnah
seperti provokator di panggung megah

lalu lantang kuacungkan pedang
MARI KITA BERPERANG !
daripada kau bangga dengan gelar rohani
padahal batinmu berbelantara infeksi
dan katakatamu mengandung bisa
yang membahayakan hidup orangorang biasa
- - - kau licik seperti ular
- - - dan bulus seperti kurakura airtawar

MARI KITA BERKELAHI SATU LAWAN SATU
tak usah main keroyokan yang justru bikin malu
tanggalkan sayap keramat duplikat di punggungmu
pangkasi bibirmu yang bergincu debu
lepaskan lidahmu yang bercabang sembilu
buang jauhjauh hukum kasih yang semu
lantas berterusteranglah bahwa kini kita berseteru
agar perang semakin seru
agar perselisihan betulbetul bermutu
agar penulis nasrani bukan cuma baju
--- baju yang menutupi kusta badankalbu

*******
babarsariyogya, 9 februari 2005



MEMALUKAN, MEMILUKAN
teruntuk saumiman saud

memalukan, memilukan
mengaku diri dewasa
tapi mudah berprasangka buruk

memalukan, memilukan
kedewasaan dipamerkan
tapi batin memelihara dendam SARA

memalukan, memilukan
lagaknya penulis berjiwa dewasa
tapi diamdiam membuat propaganda

memalukan, memilukan
menjadi penulis beraga nasrani
tapi jiwa budidayakan bias etnisitas

********
babarsariyogya, 9 februari 2005


PENGADUAN

Tuhan Yesus,
ah, sebenarnya aku malu bilang begitu
betapa munafiknya aku ngakungaku Engkau Tuhan
padahal aku masih begini ini
aku mudah marah
mudah naik pitam
lalu deklarasikan perang atas provokasi
sebab aku mau blakblakkan
bukan berkata manis tapi berhati sinis
bukan…

tapi terus terang, aku masih simpan benci
pada orangorang, yang katanya Nasrani, Kristiani,
yang katanya membanggakan hukum kasih
yang katanya seorang pendeta di negara adidaya
yang ternyata melanggar ayat yang berbunyi,
“percaya segala sesuatu”

ya itu!
betapa munafiknya!
betapa busuknya hati!
bukannya “percaya segala sesuatu”
tapi malah curiga
bermegah pada kecurigaannya
menyebarkan virus prasangka SARA
dan mencari kawankawan, main keroyokan
yang katanya juga Nasrani, Kristiani,
nyatanya hanya bersolidaritas super dangkal
bahkan memakimaki aku
menghakimi aku sebagai anti etnis tertentu
YA TUHAN!!!
padahal aku tidak pernah terbersit
melakukan apa yang dituduhkan

apakah semua itu kasih?
apakah definisi kasih hanya milik mereka?

dan Tuhan,
dalam sebagian penulis jurnalistik nasrani ini
betapa gampang menggurui tentang kasih, tentang Engkau,
sampai berbusabusa, sampai muntahmuntah
padahal menyadari diri telah “menghakimi” saja rasanya tak mungkin
dan kecurigaan alias sentimenisasi etnis masih menginfeksi diri
namun lucunya tidak sudi mengakui kesalahan sendiri

betapa busuk semua kemunafikan ini!!!
kasih kasih kasih
pepesan kosong

Tuhan Yesus,
aku benarbenar tidak sabar untuk diam
membiarkan kampanye kosong tentang kasih
padahal hati masih terinfeksi sentimenisme SARA
betulbetul pepesan kosong!

Tuhan Yesus,
jika Engkau memang Tuhan,
Engkau tahu sendiri bahwa katakata itu tidak berasal dariku
tapi berasal dari kawanku yang beretnis sama dengan mereka
aku hanya mengolah dengan tujuan ikut menikmatinya

Ya Tuhan Yesus,
malaikat-malaikat, iblis, setan dan roh-roh jahat pasti tahu
bahwa katakata itu bukan berasal dariku

dan jika Engkau memang Tuhan,
Engkau pasti tahu isi hatiku, motivasiku
dan jika aku hendak menghina mereka,
bukankah aku menghina Engkau juga?
bukankah aku menghina Engkau Sang Pencipta, yang menciptakan mereka?
terkutuklah aku jika aku hanya hendak menghina!
tapi lebih terkutuklah orangorang yang menghakimi aku!

Tuhan Yesus,
sebenarnya aku menyesal telah bersumpah
dan membuat kutukan terlaknat dan terjahanam
sebab Engkau bahkan dunia kegelapan pun tahu
apa yang sebenarnya terjadi
tapi dengan sangat terpaksa kulakukan
sebagai bukti kesungguhanku menjawab tuduhan mereka

Tuhan Yesus,
apakah kalau katakata itu disampaikan oleh sesama etnis
dan mereka saling mengenal,
apakah lantas baru “percaya segala sesuatu” dan tidak masalah?
apakah hukum kasih itu hanya berlaku pada sekelompok orang saling mengenal?
apakah Engkau Tuhan bagi semua orang atau sekelompok orang?

Tuhan Yesus,
terus terang, aku sangat sakit hati atas semua ini
lebihlebih orangorang di sini bukan preman semacam aku
mereka penulis yang katanya dibimbing Roh Kudus
mungkin roh kudis roh kusta dalam hati yang rentan SARA

Tuhan, wooooi, Tuhaaaaaaaaaan!
apakah salah aku menjerit jika sakit begini?
aku manusia biasa, Tuhan
mohon pahami aku dong
bukankah Engkau yang paling peduli?
bukankah Engkau tak suka basabasi?
bukankah Engkau tak bersolidaritas super dangkal?

ayolah, Tuhan, sudilah memahami sakithatiku ini
kalau mereka berpurapura punya kasih padahal hati terinfeksi SARA
maka aku jujur bahwa aku marah besar atas kemunafikan mereka!
bukankah Engkau paling benci pada kemunafikan?

aku mau jujur, terbuka bahwa aku marah
bukan menyimpan atau mempergunjingkan di belakang
lalu mengajak oranglain untuk membantu
bahkan menghina…

Tuhan Yesus,
ah, sudahlah
di sini ternyata “kebenaran” telah menjadi “tergantung versi siapa”
Engkau jelas tahu apa yang sebenarnya
tapi sebagian orang merasa lebih tahu bahkan sok tahu
padahal…

ah, siasia kuteruskan,
mungkin mereka pun menganggap Engkau hanya layak menjadi Tuhan mereka
Tuhan Yesus versi mereka, Tuhan Yesus milik mereka
atau, apakah memang aku tak layak memiliki Tuhan seperti Engkau?
apakah tuhanku adalah Lucifer saja,
karena Engkau sudah dikalim milik mereka?

jika memang Engkau hanya milik mereka,
yang tidak “percaya segala sesuatu”
biarlah kupergi dari hadapan-Mu, wahai Tuhan Yesus versi mereka

ah, entahlah
aku tak akan mau lagi berkoarkoar omongkosong
soal kasih dan sejenisnya
di antara orangorang yang merasa sucibersih
merasa diri sudah menjadi Kristen tulen

aku pun hanya orang kampung
apakah karena aku orang kampung lantas Engkau menolakku?
apakah karena aku preman dekil lantas Engkau menolakku?
apakah karena aku pemarah lantas Engkau menolakku?

mungkin Tuhan Yesus mereka menolakku,
menolak kerendahan hidupku
tetapi Tuhan Yesus yang lain mudahmudahan sudi menerimaku

ada berapakah Diri-Mu, Tuhan Yesus?
tiga? satu untuk etnis A, satunya untuk etnis B, dan lainnya untuk etnis C?
oh begitukah?
barangkali Tuhan Yesus itu memang berbeda-beda,
tergantung versi siapa, etnisnya apa
berarti Kristenku dan Kristen mereka berbeda
berarti Nasraniku berbeda dengan Nasrani mereka
berarti pula definisi “kasih” itu berbeda
berarti Injilku dan Injil mereka pun beda
oh! baru kusadari, ternyata berbeda
ooo pantas saja terjadi kecurigaan kolektif begitu

atau, lebih baik aku pergi saja
di sini Yesusku berbeda dengan Yesus mereka
mereka merasa Yesus mereka adalah Yesus asli-benar
di sini Injilku berbeda dengan Injil mereka
mereka merasa Injil mereka Injil asli-benar

ya, aku sebaiknya mencari Tuhan Yesus lainnya
Tuhan Yesus yang benarbenar Tuhan
bukan klaim milik etnis A-B-C mana pun
serta aku tak akan pernah sudi menjadi penulis nasrani-kristiani
biar kemunafikan dan bias etnisitas tidak menjadi berhala lain

aku percaya
bahwa kelak aku akan bertemu dengan Engkau,
Tuhan Yesus dalam arti yang sebenar-benarnya
dan Juru Selamat-ku dalam arti yang sesungguhnya
dalam suatu kumpulan yang betulbetul tulus mengajariku
yang hidupnya tidak terinfeksi sentimenisme etnis-SARA
tentang hukum kasih sekaligus melakukannya
bukan sekadar basabasi dan berkoarkoar di manamana
kasih yang bukan menurut versi etnis A-B-C manapun
juga Injil yang betulbetul Injil, bukan injil-injilan

beginilah terus terangku, Tuhan Yesus-ku (bukan Tuhan Yesus oranglain)

maaf, Tuhan,
aku tidak punya kasih yang berpurapura,
kasih yang berkata manis tapi berhati linggis,
atau kasih “versi siapa”.

- - - - - - - - - - - - - - - - -

Monday, February 07, 2005

Rezeki dari Gadai Diri

kau suguhkan tubuhperempuanmu
pada syahwatlelaki atasanatasanmu
demi nikmatbadani dan hartaduniawi
lantas kau bilang: itu rezeki
kau ucap pujisyukur kepada Tuhanmu

*******
babarsariyogya, 2005

Monday, September 20, 2004

Cintamu ya Cintamu, Agamamu ya Agamamu

Kawan,
Aku salut pada kejujuranmu
Kecerdasanmu
Sekaligus aku heran, Kawan

Oh ya?

Kau kok bisa bangga nulis
Tentang akhlak
Tentang suci
Tentang gaib
Tentang Sang Maha Penyayang, Sang Maha Setia
Dan,
Dengan bangga mengaku punya kekasih gelap
Seseorang selain kekasihmu yang semula kau banggabanggakan
Bukankah itu pengkhianatan?

Aku terkejut, Kawan !

Kawan,
Bicara tentang agama,
Tentang kesucian,
Memang mudah
Kau memang fasih sekali

Tapi,Sekali lagi tapi…
Bagaimanapun, bagiku, apalah faedah
Semua pemahaman
Semua teori
Semua isi otak
Muatan seabrek dalam tempurung kepala
Jika ternyata kau tak kuasa mengendalikan keliaran jiwa tualangmu
Berlari laksana kuda binal naik birahi
Tambah pasangan demi mencari sesuatu atau kepuasan tertentu
Atau bagaikan anjing betina di musim kawin
(Kasar ya? Pengkhianatan itu kejam, tahu!)

Sungguh,
Belum juga kau menikah dengan kekasihmu,
Di lain saat kau membuka jendela untuk orang selain kekasihmu
Kenapa bisa begitu, Kawan ?
Apakah bagimu penyelewengan emosi semacam itu bukan suatu pengkhianatan?
Bagaimana kalau kalian telah menikah,
Melangkahi angkaangka tahun yang penuh kenyataan
Dan ketika kejenuhan semakin memperkeruh jiwa tualang ?

Coba, kalau berani, kau ungkapkan pada kekasihmu
-- Seperti dengan bangga kau kisahkan padaku --
Bahwasannya kau memiliki kekasih gelap
Apakah kekasih terangmu akan senang mendengar pengakuanmu ?

Kawan,
Bagaimana pula andai kekasih terangmu pun menyimpan kekasih gelap, lalu ia mengakui hal serupa?
Apakah kau akan berbahagia serta bangga pada kekasih terangmu tanpa secuil api cemburu?
Apakah tidak masalah jika kekasih terangmu pun punya selingkuhan ?
Ah, jujurlah, Kawan…

Kawan,
Kau pasti menilai agamaku adalah kafir atau syirik atau bidah,
Sehingga pemahaman tentang cinta pun kau nilai tidak bermutu
(Aku pun bisa menilai agamamu itu payah, kan ? --- soalnya, ada orang yang menilai agamaku dengan kacamata agamanya sendiri, padahal aku juga bisa menilai agamanya dari kacamata agamaku)
Tapi, maaf, apalah arti penilaianmu jika ternyata kau masih membiarkan keliaran jiwamu melukai, mengkhianati hakikat cinta sejati dari Sang Maha Pengasih, Maha Adil, dan Bijaksana
Dengan penuh kesadaran kaupersembahkan jiwamu pada perselingkuhan maya
Yang sama sekali bukan tindakan bijaksana, adil, dan penuh kasihsayang

Kawan,
Di lain pertemuan kelak,
Tak usah lagi bicara soal Kebenaran Agama dan Tuhan padaku,
Sebab,
He he he…
Kau pasti hafal pada nama Adam dan Hawa, kan?
Nah, coba kau renungi baikbaik sebelum merasa diri paling beragama
Sejak semula, menurut suatu agama, manusia diciptakan hanya Adam dan Hawa
-- tidak ada Sri, Inem, Atun, Zaenab--
Adam tidak pernah mencintai perempuan lain atau hewan selain Hawa,
Hawa tidak pernah mencintai pria lain atau binatang selain Adam

Bagaimana, Kawan ?
Masihkah kau akan membela dirimu bahwa perselingkuhan maya adalah sahsah saja ?
Barangkali kamu bilang kekasih terangmu itu kurang begini kurang begitu
Sedangkan kekasih gelapmu itu lebih begini lebih begitu
-- kelebihan yang tidak dimiliki oleh kekasih terangmu --
Begitu?
Memangnya kamu sendiri serba punya kelebihan ?
Sudah pernah bercermin di comberan depan rumahku ?

Nah, Kawan
Kalau kamu masih membela diri sedemikian rupa,
Maka, di sini, saat ini dan seterusnya,
Aku pun akan jujur padamu, Kawan
: omong kosonglah seluruh ludahmu
Tentang Agama, Tuhan, Kesucian, akhlak, alasanalasan membela diri, hidup penuh ucapan syukur, dan lainlain yang tai kucing itu.
Buang saja busa bunga busuk bacotmu itu, Hewan !

*******

bumiimaji, September 2004

Monday, May 03, 2004

KARENA AKU KINI MENGENALMU

sejak kekurangan diri tak disukai
karakter kita bertolak belakang
kita semakin tak saling kenal
semakin acuh tak acuh
tetapi tetap merasa diri penyair
yang katanya jeli, peka
dan menulis dengan nurani
(menulis dengan nurani?)

ah, nurani

nurani tertindas kepongahan
terbelenggu menjadi pesakitan
jiwa yang juga sakit
luka dijadikan perisai
benci pun menjadi senjata
katakata meluncur jadi mesiu

ah, nurani

entah di mana nurani
ketika benci dan dengki menjajah diri
berperangdingin dengan sesamanya
dan masih juga merasa diri penyair

ah, nurani penyair

tak ada yang salah pada nurani
hanya luka, benci, iri, ambisi, obsesi
telah menggilas nurani
menjerit tanpa bunyi
jadi puisi basabasi
mungkin penghuni sela gigi

karena aku kini mengenalmu, penyair!

semula kusangka penyair itu berbudi baik
berkawan dengan menerima perbedaan
(bisa terima kekurangan, kelemahan)
berkawin, penuh madu dan bunga kasih
seolah hidup pentingkan geliat nurani
ternyata…
aku tertipu pada sloganslogan sastra
katakata dipelintir entah demi apa saja

karena aku kini mengenalmu, penyair!

membaca sajaksajakmu
sepertinya kau begitu berbudi mutiara
seperti pohon rindang naungi kehidupan
seperti angin gunung menebas kemarau
seperti oase di gurun sahara
seperti…
seperti…
seperti…
hanya seperti
itulah fatamorgana
jika hanya melihat dari jauh tanpa berada
dalam kerumunan penyair

kenyataannya penyair hanya baju
mungkin lebih indah daripada jubah salomo
tetapi jiwa penyair tetap manusia biasa
berisi luka, dendam, iri, benci, congkak
egois, merasa paling benar paling suci
amarah, bergunjing dan sebagainya
sama dengan politikus, hanya baju
juga agamawan dan rohaniwan
(koruptor masih dipandang baik oleh orang terdekat)

hanya baju
baju yang dirajut sendiri
(ketekunan saban hari)
baju yang disandangkan orang lain
- oleh sebab apa pun
baju yang dibeli karena memang kaya
- ini enaknya jadi orang kaya
dipakai untuk menutupi aurat
mungkin ada bisul, kurap atau panu
tapi dengan lancar meneriakkan
bisul, panu, kurap ataupun kusta
yang tersingkap di sela baju orang lain

karena aku kini mengenalmu, penyair!

kau bilang aku hanya melihat baju
jika badan, mungkin melihat kulit
bukan melihat kesungguhan nurani
yang hidup pada puisipuisi

begitukah?

ah, nurani
ah, puisi
ah, penyair

apa pun apologimu
kau tetaplah manusia biasa
penyair hanya baju
-- seperti penjahat, hanya baju
atau pembunuh, penghujat --
keringatmu tetap bikin bau
(kentutmu, kotoranmu apalagi!)
sesamamu belum tentu sudi cium baunya
bahkan sesama penyair pun bermusuhan
saling menggunjing, menuding
seperti para politikus
(kutukan sejak kain dan habel ?)

karena aku kini mengenalmu, penyair!

***
babarsariyogya, 2004

CINTA SANG PENYAIR

katakata cinta seringkali terukir
dalam kalimatkalimat mengalir
- anggap saja itu syairsyair -
estetika afkir hingga mutakhir
buahpikir buahbibir penyair

(bukan nyinyir, bukan mencibir)
penyair mahir mengutakatik kata
buahpenanya bisa menyihir realita
isi perasaan diadukaduk
hanya seputar cintaasmara membara

kalau penyair bilang padamu
“kaulah bidadariku.”
jangan lantas kau mabuk
lalu dengan mudahnya takluk
namun tetaplah waspada diri
sebab dengan menyebutmu bidadari
penyair itu hanya ingin bakubirahi
setelah sekian waktu mencumbu
ia pun jemu
jenuh karena itu melulu
lalu ia akan berubah memandangmu
baginya, kau bukan lagi bidadari
melainkan seonggok karung goni

kalau penyair itu bilang
“kau seperti bunga
bahkan melebihi kecantikan bunga.”
maka berhatihatilah
jika ia mendekatimu
berhasil memetik mahkotamu
bukan berarti kau akan ditempatkan
pada vas pualam dalam hatinya
tetapi ia sekadar suka menikmati
dirimu segar nan semerbak wangi
bila bosan dan ia menemukan bunga lain
- ia memang jelmaan kumbang -
niscaya kau akan ditinggalkannya melayu

kalau penyair lainnya bilang padamu
“kaulah lelaki sejatiku.”
jangan lantas kau terbuai
kelelakianmu lena, dirimu lalai
namun tetaplah peka dan jeli
meski kau seorang lelaki
jjka perasaan berhasil tersihir
maka bisa rusak pikir

bosan itu biasa
perempuan pun bisa
apalagi kau bukan dewa
bukan arjuna
dan perempuan bebas memilih siapa
tak sudi kaupenjara
- ia suka menjadi kupukupu
agar selalu dikagumi, hinggap sanasini -

tak usah kau anggap cinta dan birahi
dalam diri penyair itu berintegrasi
cinta sejatinya hanya demi puisi
kesetiaannya cuma misteri imaji
api birahinya bisa nyata kesanakemari

***
babarsariyogya, 1 mei 2004

Friday, April 30, 2004

Penyair itu Manusia Biasa

penyair itu manusia biasa
bukan nabi, bukan utusan Tuhan

apabila penyair berteriak lantang
ataupun menikam dengan syairnya
-- syair yang diukir --
kemudian ribut soal hati nurani
sepintas mirip nabi
sepintas.

tak usah kebakaran bulu kaki
anggaplah memang sudah adatnya
mungkin sudah kutukan
bahwa penyair akan memakai kata
sebagai senjata khasnya
menohok, mencibir borok dan busuk
padahal hati nurani mereka pun
tak lebih suci dari penjahat berdasi

berkoarkoar
obral janji
lalu ingkar
sembunyi

sungguh!
percayalah!

sebagian penyair itu busuk juga
moralnya pun moratmarit
sebab, memang penyair bukan nabi

jika penyair menggugat nepotisme
anti kroni, anti monopoli
menggugat ketidakadilan
menggugat kesewenangwenangan
menggugat tirani
anggaplah kentut belaka
sebab sebagian penyair juga begitu
membuat suku purba
utamakan, bela, puji dan dukung
kelompoknya sendiri
menyerang atau anti suku lainnya

jika penyair menggugat moral
apa penyair juga bertindak sesuai
dengan moral?
moral itu?
mereka akan menyodorkan definisi
moral berlandaskan selera
sesekali seolaholah bernurani
padahal tak bernyali gugat kawan sendiri

jangan percaya!
senimankata tak lepas dari dusta!
sebab mereka bukan nabi
bicara dari diri, bukan Wahyu Ilahi
puisipuisi mereka bukan ayat keramat
antologi mereka bukan kitab suci

ya memang begitu
maklum, penyair cuma manusia biasa

***
babarsari, 28 april 2004

AH ENGKAU

seperti anak kecil masuk laci
seperti ibuibu di balik kuali
seperti banci di dalam panci
engkau masih sembunyi
hanya bernyanyi
lalu pergi lagi
mengintip sembari menjampi

hewes hewes hewes
kodok kotok dikira bedes
sering tengok tapi tak beresberes

hewes hewes hewes
ono banci lali benges
entah benci entah cengengascengenges

katakata hanya katakata
-- seperti bunyi plung di pagibuta
kriminalitas komoditas berita
saban hari, rasuki badan pewarta
jadi penjahat, itulah media massa kita
(cuh! mafioso berjubah intelektual, nyata!)

elegi
ironi
tragedi
apa lagi

engkau masih sembunyi
bernyanyi dalam kuali
dengan katakata sunyi
demi kepentingan pribadi
norma seni tak berarti
penyair mati, jangan peduli
sudah takdir, mati matilah sendiri

ya salah sendiri, kenapa jadi penyair
syairsyair cair, rejeki tak ngalir
-- jangan pernah bercitacita jadi penyair
jikalau tidak punya kerjaan bergaji banjir
sebab penyair adalah kaum fakir
bermain bibir, bermain kata, lalu afkir --

pertarungan apologi hanya pada engkau siapa
tak ada kuasa, bergabunglah dengan kaum papa

engkau masih akan sembunyi
entah hingga kapan nanti
biarlah iblis yang menemani
- o iblis peduli sekali
berangkulan masuk neraka keji
(tak usah ketuk pintu, anggap rumah sendiri)
berikut susumadupahaladosa tak terperi

puah!
puah!
puah!
sumpahserapah di dalam hati
mengalir puisi berkain suci
kutukan selaksa hujatbelati
menusuk tidur, menikam mimpi

puah!
puah!
puah!
habis beras, makan gabah
habis gabah, makan gajah
(telan juga gading dan kandangnya, gurih renyah!)

*******
babarsariyogya, 28 april 2004


Atraksi Tradisi

dan kalian berdua masih di situ
di bawah kerudung malam
berekspresi seni
mungkin eksperimentasi
gerak tanpa bibir
gitar akustik, sesekali musik elektronik
mengusik kuping, menggelitik fisik
berbumbu cinta seadanya
di atas panggung sahaja
di antara mobilmobil mati

sedangkan penonton masih di sana
berhadapan muka dengan muka
coba berapresiasi sesuka hati
atau sengaja buang angka waktu
sebelum pulang merekam malam

beginilah seni tradisional
katakata olahan ragawi
bahasabahasa jasmaniah
lincah mengumbar makna
biarkan beribu arti bersemi
terpahat di pelupuk mata
perangi kolonialisme media audiovisual
imperialisme media komersial
tandingi aksi drama laga impor

dan kalian berdua tetap beraksi
atraksi senitradisi yang kian sunyi
tanpa paksa mimpi mencipta mastera
sebab seni adalah ungkapan hati
bukan sebuah kursi bertulis julukan

***
babarsariyogya, 25 april 2004 (usai nonton JES)


Ukiran Syair Alam di Sekujur Kulit Pohonmu
: untuk Pelukis Suharno

sebatang pohon dengan panorama
hijau merata, sejuk nun jauh
juga sebatang pohon lainnya
berdaun merah menggoda mata
dengan nuansa cakrawala

pepohonan berkulit terukir syair alam
di tepian telaga, di sisi rimba,
di seberang bukit, direnungi gunung
dalam naungan klimato tropika
pada lahan lapang kanvasmu

naturalisasi imaji. fatamorgana rekayasa
romantika fiktif. dokumentasi mimpi
sajikan fantasiana. anjangsana angan
serpihan sisaasa. puing pengharapan
cerminan jiwa. mengintimi alam

andai raja hutan pemakan kayu
atau petinggi lingkungan hidup
menemukan belantara jejakkuasmu,
semoga mereka menanam lukisan itu
di dindingdinding ruang pemetaan

***
babarsariyogya, 25 april 2004 (usai nonton JES)



INDAH ITU DI TANGANKU
: untuk Pelukis Jaya Adi

lelaki tambun kepala tertunduk
mengaso mata lelah
membuka kacamata
seperti saat lengser keprabon

garisgaris berkarakter kuat
seorang penguasa orde baru
tergores berarsir dinamis estetis
pada kertas hitamlegam pekat

"indah itu di tangan saya !"
seru sang pelukis
yang terbaca berita tentangnya
di koran lokal edisi minggu

***
babarsariyogya, 25 april 2004 (usai nonton JES)


ADU NASIB DALAM NAFSU

Gadisgadis di sini
Cobacoba raih peruntungan
Seperti kakakkakak mereka
Lelaki kampung berijazah rendah
Gaet mahasiswi bermandi birahi
Dengan alkohol dan pilkoplo

Gadisgadis di sini
Cobacoba raih peruntungan
Bermain api bersama mahasiswa
Di kampus sekitar rumah mereka
Ikut menggulung wajah rembulan
Tenggelam dalam kemesuman

Gadisgadis di sini
Cobacoba raih peruntungan
Melupa elegi generasi silam
Yang tercampak selepas pertogaan
Terbuang di jejak kaki seribu
Wariskan pahatan prasasti!

Gadisgadis di sini
Cobacoba raih peruntungan
Tak jua sudi menyimak airmata
Bahwa perempuan selalu dirugikan
Oleh duribirahi di tangkai mawarkelabu
Bingkisan parapria hamba birahi

***
Babarsariyogya, 21 April 2004


RODA BESI PERADABAN

Ganasnya roda besi industri menggilas
Sekujur lembut kulit tubuh perempuanmu
Tegaskan garisgaris perlawanan
Gulingkan menhir rezim materialisme
Yang senantiasa mengipas selera kaummu

Dunia memang pongah
Hatinya menjulang
Menghujam gemawan
Menantang langit
Mengangkangi taman bungamu

Dunia selalu terbahakbahak
Bangga menyebutnyebut peradaban
Terusmenerus menyumpal media massa
Gelindingkan roda besi kapitalisme
Menggerus setangkai melati di hatimu

***
babarsariyogya, 20 april 2004

AUMAN CINTA

Orangorang menyangka dirimu singa betina
Yang tengah hamil tua di gurun sahara
Mengaumaum
Pamerkan taring
Unjukkan kuku

Purbasangka mereka sahsah saja
Tiada perlu disangsikan
Katakatamu
Goresan luka
Jejak laga

Sedangkan sesengguk isak menyesak dada
Hancur berderai menimpa pangkuanku
Bilik batinmu
Rintihan rindu
Hakikat cinta

***
babarsariyogya, 20 april 2004

KAU BUKAN ARCA TAMAN KOTA

Ketika suaramu menggelegar
Menggebrak bentengbenteng
Ketika jemari lentikmu mengumpul
Kedua telapakmu mengepal
Menggempur temboktembok
Segenap penjuru angin gemetar
Kutubkutub bumi bergetar
Para perempuan bersorak, bergerak
Sambut seruan setuju perjuangan
Sebut dirimu laksana pahlawan
Meski para suami merinding
Sekap gemuruhmu dalam laci

Bukan saatnya lagi para petinggi negeri
Bersendagurau di pestapesta
Berbusabusa di seminarseminar
Bertamasyaria di daerah wisata
Petentangpetenteng di media massa
Tapi menghindar darah nanah airmata
Milik anakanak negeri di seberang
Yang saban hari diperah
Diperas oleh baju safari
Tinggal sepah untuk keluarga di kampung
Bahkan hingga nafas di ujung palu
Yang dibutakan dusta, diperdaya rekayasa

Ketika gaungmu terus meraung
Memantik benih api perjuangan kaummu
Menampar premanisasi aparatur
Membongkar borjuisasi pejabat
Orangorang menghujanimu pujian
Decakkagum mengguyur ubunubun
Namun mungkin mereka lengah
Bahwa dirimu bukan arca taman kota
Yang selalu tegak kepalkan perlawanan
Melainkan sejatinya dirimu manusia
Anak perempuan bagi ibumu
Istri sanjungan bagi suamimu
Ibu dambaan bagi anakanakmu
Punya rindu tersimpan di relung hati
Untuk kaucurahkan pada mereka

Akhirnya hanya luapan airmatamu
Memandikan padang gersang
Ajang jiwa melaga
Mendahaga dekaphangat kasihsayang
Di bawah cemberut rembulan seperenam

***
babarsariyogya, 20 april 2004

PENYAIR PUN BUSUK

Penyair suka bicara soal hati nurani
Mencibir perang, politik, penindasan

Bagiku, itu cuma omong kosong !
Isapan jempol kaki kingkong !

Coba beri penyair sepucuk pistol
Jangan kaget jika ia sudi menjebol kepalamu!

Coba beri penyair suatu pengaruh, posisi strategis,
Jangan kaget kalau ia bisa berpolitik dan menindas!

Penyair o penyair
Dengan katakata ia bisa menusuk siapasiapa
bisa memutarbalik kebenaran, kompromi dengan kebusukan

Ketika ia menuding agama adalah pabrik kemunafikan,
ia sendiri begitu munafik di balik katakata

Ketika ia menuding politik menindas uwong cilik,
ia sendiri sangat licik di balik katakata

Ketika ia menuding politik sastra yang diskriminatif,
ia sendiri melakukan hal serupa, jika diberi kuasa

Bicara soal moral, ia bisa tuding orang korupsi, kolusi dan nepotisme
Tapi ia bikin puisi isi kelamin, berhubungan seks tanpa nikah, perkoncoan

Moral itu apa bagi penyair?
Penyair hanya bisa berkata, berkelit dan berdusta!

Ia berteriak soal hatinurani, perikemanusiaan, keadilan,
Tapi ia khianati pernikahannya, khianati sahabat, ia pilihkasih

Penyair o penyair
Selagi jadi manusia, punya nafsu, ambisi, kepentingan, iri, pongah, dendam
maka penyair tetap busuk seperti juga politisi busuk

Wahai penyairku yang bertopeng kata,
Tak usah berkoar soal hati nurani, tapi mari bersulang dengan bangkai anggur !

***
19 april 2004

Sajak Demi Tepuk Tangan

Seperti valentino rosy
Bersama max biagi
Larikan motor mereka
Yamaha dan honda
susulmenyusul dalam mata

Seperti itu pulalah
Kita melarikan kata
Kencang, meraunglantang
Lurus, menikung
Demi tepuktangan

***
babarsariyogya, 19 april 2004

PERCERAIAN

Apa yang terlihat ketika acara akad nikah?
Kitabsuci, Nama Allah
Saksisaksi, mahar mewah
Wajahwajah tegang, tersenyum, terharu

Ketika bahtera janji arungi samudera nyata
Bulanmadu telah habis dicabik waktu
Egoisme dan kepongahan diri tegakkan tanduk
Laga lidah, tarung kata dipicu rasa salingkecewa

Apa yang teringat ketika cinta jadi jibunan puisi
Atau janji ditutur di depan Ilahi, Kitabsuci, saksi?
Kini jelma rasa saling takpuas pada pasangan
Kekurangan jadi bolaapi, keretakan tagih janji

Banyaksebab bisa disketsa jadi dalildalil dalih
Perlihatkan seolah perahu cinta sudah parah
Padahal sematamata egosime yang pongah
Selain derita lukaraga dari silang polah

Perceraian itu pencideraan janji atasnama Ilahi
Dan penganiayaan keji terhadap perikemanusiaan
Terkecuali nyawa berpulang kepada Sang Empunya
Atau pengkhianatan tikam tengkuk kesetiaan

*******
babarsariyogya, 15 april 2004

PENYAIR

sang penyair mahir mengukir kata
bahkan gegabah menyebut diri
"keturunan para nabi!"
dan "ukiran kata itu sabda ilahi!"
katanya, dari pewahyuan ke nurani
matang manakala patiraga patibunyi
padahal sesungguhnya katakata hanya
angin berdesir menyisir padangpasir
membawa syaisyair air anyir
untuk menyihir dahaga para musafir

sang penyair lihai hiasi kata bahasa
membelai syarafsyaraf pekarasa
dengan suguhan sebutir buah khuldi
merahnyala memantik hasratsembunyi
maka terbakarlah jerami diri
berkobar hingga hangus, hilang kendali
para korban bergelimpang, mati suri
menadah bukti, menghiba diri
sang penyair mangkir, tak lagi peduli
pergi sembari benamkan racunduri

*******
babarsaritogya, 15 april 2004

TUHAN

ada yang ingin jadi tuhan
dalam dunia persajakan
bikin perintah hitamputih
pagarinya dengan apikutuk

*******
babarsariyogya, 14 april 2004

Thursday, April 29, 2004

TRAGEDI

Sudah lama nianlah pengkhotbah
Berteriakteriak jelajahi jarumjam
Tinggalkan angka, fosil almanak

"kesiasiaan di bawah matahari
lelaki dan perempuan menjaring angin
kumpulkan debu, menimbun abu."

Mereka berupaya menjala bianglala
Dari sulaman airmata darah
Atau anyaman keringat nanah

"kesiasiaan di bawah matahari
lelaki dan perempuan menguras samudera
kumpulkan isi dunia dalam kepala."

Mereka berlombalomba jadi jawara
Sekuat tenaga memaki matahari
Hingga bergegas usai membual bulan

Sudah terkabar pada seorang bocah
Bahwa lelaki dan perempuan percumakan
Hidup hadap senyap, harapan lenyap

*******
babarsariyogya, 14 april 2004


Sunday, April 18, 2004

Kartini

Puisi tak bisa membungkus realitas
Bahwa sebagian kaum lelaki masih
Menjadikan kaummu sebagai hanya
Pelabuhan perahujanji berujungbirahi

Puisi pun tak jua sanggup sembunyi
Pada ironi kaummu sendiri yang
Suka memasang raga untuk dipermak
Menjadi obyek pelegadahaga apa saja

*******
babarsariyogya, 9 april 2004


Aku Tak Bisa Bikin Puisi untuk Kartini

Kartini,
Aku tak bisa bikin puisi penuh pelangi
Untukmu, untuk kaummu, perempuan
Sebab aku masih memandang kaummu
Sebagai obyek pelampiasan libidoku

Kartini,
Aku tak mampu sembunyi di balik puisi
Menipu hatimu dengan katakatapikatan
Bertabur selaksa bunga semerbak wangi
Padahal sering kuceraikan istriistriku

Kartini,
Aku tak sanggup teruskan katakata ini
Kusadari diriku lelaki perusak pagar ayu
Hanya demi terpuaskan segenap nafsuku
Lalu pergi, tinggalkan bangkai puisiperih

*******
babarsariyogyakarta, 9 april 2004


Kutipu Kau, Kartini

Kutipu kau, Kartini !
Kurangkai, kubingkai katakata kencana
Kutaruh di hadapan batu nisanmu
Di depan mata orangorang, kaummu
Supaya kaummu pandang elokku
Lantas terpikat katakata kencana itu
Kujerat dengan berjutajanjisurga
Kelak setelah puas kujilat keringatnya
Maka aku akan minggat

Kutipu kau, Kartini !
Tanpa susah berdalih soal poligami
Toh aku bisa tuntaskan tuntutan birahi
Sebab, katamu, poligami sangat sakiti hati
Sehingga aku cari cara lain, terselubung
Supaya hasratlelakiku bisa kularung
Kala kaummu tersihir syair kencana
Mabuk kepayang, nurani nalar terlena
Lalu kubuang ia jadi sampah merana

Kutipu kau, Kartini !
Karena ternyata kau tak pernah tahu
Sesungguhnya aku ini lelaki budak birahi
Birahi adalah majikanku, tuhanku asli
Dan kutahu bahwa katakata punya daya
Bisa memperdaya sebagian kaummu
Katakata sengaja kutaburi bunga setaman
Kusemprot dupa purba dan parfum kini
Untuk kubarter, dan terpenuhi birahi

***
babarsariyogya, 10 april 2004


Ketika Susi Akan Berkartini

Susi sibuk bersolek di muka cermin
Berbusana tradisional, berkosmetika modern
Sebentar lagi ia harus tiba di sebuah café
Berpartisipasi dalam peringatan hari Kartini

Sementara malam ini direlakan raganya
Tak memakai kaos ketat separuh perut
Celana jins berpinggang sepertiga
Sepatu tumit lancip, semua disimpan

Hanya untuk satu malam ini, cuma malam ini
Susi pun tak perlu paham sejatinya Kartini
Apa saja citacita yang diperjuangkannya
Demi emansipasi perempuan bumiputera

Yang tersangkut dalam benak Susi
Adalah tradisi kaum perempuan negeri
Ejawantah solidaritas demi stempel nasionalis
Baginya, itu lebih baik daripada tak terlibat

Ya, bagi Susi, sudah baik sudi terlibat
Tak usah repotrepot paham hakikat
Apalagi punya salinan suratsurat wasiat
Sebab toh kartini bukan nabi bukan malaikat

Susi memutarmutar tubuhnya di muka cermin
Sesekali menatap diri dengan serius sekali
Lalu lengganglenggok, lantas balik lagi
“Sudah patutkah?” pikir Susi seraya senyum

Susi masih menyisa ragu memantas diri
Baginya, masih lumayan di hari valentine
Atau berkostum untuk meriahkan hellowen
Paling mending berbikini saja di kolam renang

Seekor cecak kekenyangan di tepi lampu eternit
Juga tak sanggup tahan diri saksikan sosok Susi
Tibatiba cecak itu jatuh tepat di depan muka
Susi mencakmencak sambil bilang “bangsat!”

Tininit tununut tananat tenenet tononot
Hapenya berbunyi, nama Boy membetot
Hanya pastikan agenda, lepas acara ada acara
Menginap di hotel berdua Boy, suami orang

*******
babarsariyogyakarta, 11 april 2004

Friday, April 09, 2004

PEMILU 2004 adalah Peringatan Bagiku

bagiku,
pemilu 2004 adalah kejahatan politik
panitiapenyelenggara tak sepenuhhati
benderabendera partai pun tak peduli
tanpa kartubiru, pesta berte;ingatuli

bagiku,
pemilu 2004 adalah cacat bangsa
atribut acara tak sungguh dikelola
penggusuran suara benarbenar nyata
ketuapanitia hanya pandai ucap “maaf”

bagiku,
ketua dan para panitia sepatutnya malu
dan kata “maaf” yang dipahat di media itu
harusnya ditindaklanjuti dengan “mundur”!
karena pemilu 2004 ini telah dicurangi

bagiku,
pemilu 2004 adalah pertanda jelas sekali
bahwa adatidaknya pemilu lainnya nanti
sudah tak usah kutunggu dan kutanggapi
lebihbaik memikirkan periuknasi sendiri

maka aku peringatkan pada parapanitia
jangan seenak udel cap aku golonganputih
tapi becerminlah pada dinding kotaksuara itu
sebab kalian sendiri berangus hakkewajibanku

: Golongan Putih diciptakan pula oleh Panitia!

***
babarsariyogya, 7 april 2004




Puisi Golongan Putih

Dulu golput berkata lantang
Kami memilih untuk tidak memilih
Maka tidak memilih adalah pilihan

Dulu golput didakwa tak nasionalis
Tak peduli nasib bangsa yang sedang
Sibuk memilih calon pemimpin bangsa

Sekarang? 2004?

Sekarang golput bukan hanya pilihan
tapi hasil kerja panitia pemilu yang
tak sungguhsungguh daftarkan warga

Sekarang golput dilahirkan oleh
Mekanisme keteledoran panitia
Yang kedodoran tapi tebalmuka

Golput sekarang?

Golput sekarang bertambah jumlah
Dari pilihan pribadi yang tak pilih kasih
Hingga korban ketidakberesan panitia

Bertambahnya golput adalah andil
Parapanitia yang ngawur memilih mitra
Lupakan mitra lama yang lebih membumi

Bagaimana status golput sekarang?

Statussosial golput sekarang bisa dibilang
Sah dan dengan sengaja dilegitimasi oleh
Parapanitia kakitangan pemerintah

Maka, apabila situasi ketidakbecusan ini
Masih dipertahankan bahkan dipujipujikan
Itulah malapetaka berbangsabernegara !

***
babarsariyogya, 7 april 2004




Jangan Menangis untuk Kami

Indonesia,
Jangan menangis untuk kami
Tak diundang pesta 2004 ini
Kami bukan siapasiapa lagi
Airmatamu mengalir sunyi

Indonesia,
Tangisilah parapanitiamu sendiri
Tak becus bekerja tapi percayadiri
Lagak jurukampanye obral janji
Tak bisa tunaikan, masih sok aksi

Indonesia,
Tangisilah dirimu sendiri
Yang terlalu percaya pada mereka
Tapi tak percaya anakanak negeri
Biarlah dukamu jadi basabasi saja

* * *
babrsariyogya, 7 april 2004




Puisi Busuk Sekali

Orangorang begitu girang bergunjing
Tentang politisi busuk partai busuk
Namun begitu lengah pada kenyataan
Bahwa pestademokrasi 2004 ini adalah
Pesta parapenyelenggara yang busuk pula

Orangorang begitu berang dituding
Sebagai politisi busuk berpartai busuk
Namun begitu lalai pada kenyataan
Bahwa kebusukan 2004 ini adalah
Ulah busuk padapenyelenggara pesta

: buang sejenak impian pemerintahan yang bersih!

***
babarsariyogya, 7 april 2004




Bau Busuk Jadi Bola Api

Forum lembagaswadayamasyarakat
Melalui tangandingin tabloidlokal
Melempar bolaapi di mata khalayak

17 calon legislatif ternyata busuksekali !

Pro-kontra pun bersilangpandang dalam
Prasangka, tuduhan, peduli, acuh tak acuh
Agresif demi kebenaran, diam demi emas

Perahu nusantara siap jadi padang kurusetra ?

***
babarsariyogya, 26 maret 2004




Mbok Yao
: untuk antek-antek patheken

Kaupamerkan masalalu berharga stabil
Tak pernah kausingkap asaldana kauambil
Dari untangluarnegeri, jadi sumbersubsidi
Hargaharga stabil, utangnegara kian tinggi

Mbok yao jangan begitu, politikus bulus
Kau bisa bius rakyat yang menadah tulus
Dengan formula harga dan stabilitas nusantara
Tapi kau culik bunuh anakanak mereka

Kaupamerkan stabilitas masa silam
Tak pernah kauakui anakbangsa kaukejar
Kau ancam, kau bungkam, kau tikam
Tapi kau biarkan tikustikus rakus meliar

Mbok yao jangan bocor umbar janjipalsu
Terus saja kau sihir hatinurani rakyat lugu
Dengan formula komparasi yang muluk
Tapi sesungguhnya cuma kamuflase busuk

*******
babarsariyogya, 31 maret 2004





Knalpot Kampanye

Seperti knalpotmotor meraungraung
Begitulah mulutkampanye umbar janji

***
babarsariyogya, 31 maret 2004


Pesta untuk Siapa
: MAAF, INI BUKAN PUISI !

Ya, katanya ada pesta demokrasi
Pesta ini untuk seluruh warga sini
Nyatanya?

Nyatanya, ada beberapa warga
Penduduk asli dan pendatang
Tak diberi kartu undangan biru

Tanpa kartu undangan itu
Niscaya tak bisa ikut berpesta
Kenapa ?

Pesta ini pesta orangorang yang
Merasa paling sangat Indonesia
Daripada wargawarga lainnya

Ya, pesta ini diselenggarakan
Oleh panitia paling sangat Indonesia
Nyatanya ?

Nyatanya, sebagian warga tak punya
Bukti kartu undangan biru hanya
Menonton meriahnya pesta

Maka, tanpa perlu puisi, kunyatakan
Ikut berbelasungkawa atas
Kematian warganegara dalam pesta ini

Aku juga berterusterang padamu,
Sebagian warga babarsari yogyakarta
Jadi penonton pada pesta demokrasi ini

Dan, tanpa dekorasikata, kupertanyakan,
Pesta demokrasi tahun 2004 ini
Milik siapa ? MILIK SIAPA ?

Wargawarga asli, puteraputeri negeri
Gigit jari seperti orangorang asing
Di negerinya sendiri. O sedihperihpedih

Beritaberita kekurangan logistik
Kerusakan kertaskertas suara
Pencoblosan sebelum waktunya

Lihatlah, lihatlah hasil kerja mereka
Pesta yang tidak setiap tahun digelar
Namun, dipaksakan demi gengsi

Ya, demi gengsi segelintir orang
Yang berandil besar dalam pesta ini
Tapi nyatanya apa ? NYATANYA APA ?

Segelintir orang yang tampaknya pandai
Namun sayangnya betulbetul amburadul
Menggelar pesta yang tak saban tahun ini

Langsung, umum, bebas, rahasia
Jujur, adil dan damai
Hanya selorohan sloganslogan

Memalukan
Memilukan
O malapetaka !

Langit, matahari, awan gemawan
Tuhan, malaikat dan setansetan
Menyaksikan apa yang disebut pesta

Pemilu 2004 ini milik siapakah ?
Milik partaipartai ?
Milik KPU ? MILIK KPU ?

Mungkin pertanyaanpertanyaan
Berakumulasi pada satu tanya
Indonesia ini milik siapa ?

Wahai para penyelenggara pesta,
Kemeriahan pesta ini untuk apa,
Untuk siapa, milik siapa ?

Pesta demokrasi 2004 ini buktikan
Ketidakbecusan koordinasi, diskriminasi
Pencideraan atas hak warganegara

Pesta ini adalah kelanjutan dari
Pemberangusan sekaligus pembunuhan
Atas hak hidup dan kewajiban warganya

Dan untuk pesta demokrasi 2004 ini
Tak perlu kuhiasi dengan puisi
Kecuali ucapan turut berdukacita ini

INDONESIA, ENGKAU MILIK SIAPA ?

*******
babarsari yogyakarta, 5 april 2004



PUISI BUSUK

Siapa penyandang gelar politisi busuk
Pada paruh dada bayangbayang orang

Siapa pematok rambu partai busuk
Pada pagar pelataran bangunan buram

Siapa penyebab upacara pemilu busuk
Pada pigura lukisan balairung murung

Siapa penulis papan peringatan busuk
Pada pecahpandangan kebangsaan kita

Siapa? Siapa? Pembisik busuk?
Tusukkan kebusukan, rasuki kebisuan

: Minyakwangi menari di mejahijau

* * * * * * *
bumiimaji, 3 februari 2004



Puisi Oposisi *

Apakah politik menghayati 1998?
Penembakan di jalanjalan
Pelurupeluru tanpa nurani **
Berhamburan
Darah bersimbahan
Mahasiswamahasiswa tumbang
Lukaparah bahkan gugur
Di jogja darah moses gatotkaca bersaksi

Apakah politik menghayati 1999?
Jual suara, jual kursi, jual sapi
Konspirasi sangat menjijikkan
Rekayasa memuakkan sekali
Bapakbapak terbahak kantongi honordarah
Terpingkalpingkal dalam mobil mewah
Tidur tersenyum di atas busa tunjangantua

Bagaimana dengan pesta politik 2004 ini?

********
babarsariyogya, 13 maret 2004

*) kolaborasi dengan Penyair Heri Latief, khususnya pada baris: Penembakan di jalanjalan / Pelurupeluru tanpa nurani.

**) peluru tanpa nurani, mengingatkan pada cerpen “Dzikir Sebutir Peluru” karya Agus Noor (1998).



Babarsari Merah Saga

Pemuda dan orang tua bergiatdiri
Bambu, kayu panjang menjuntai
Nadi babarsari memerah saga

Oh! Masa kampanye telah tiba

*******
babarsariyogya, 13 maret 2004


Babarsari Berbendera Calon Legislatif

Merah, kuning, hijau, biru, putihmerah
Bergambar apa saja, berangka berapa saja
Jalanjalan, pagarpagar. Ramai. Meriah

Wajahwajah gagahwibawa pada posterposter
Ada nama, nomor partai dan lambangnya
Mungkin merekamereka calonlegislatif

Kucari calonlegislatif bernama heri latief

*******
babarsariyogya, 14 maret 2004


Bendera Putih

Di antara warnawarni umbul serta bendera
Sebuah bendera putih tibatiba berkibarkibar

Apakah ada golongan putih anti pemilu?
Apakah ada duka atas tragedi politik kita?

Sesuatu yang lebih berarti daripada politik
Yaitu kabar kematian dan berita lelayu

***
babarsariyogya, 14 maret 2004



Karjo Jadi Pemilih

Masa kampanye nyentrik sekali
Karjo didatangi orangorang

Orang I :
"Kaos gratis untukmu.
Coblos nomor ini, ya?"

Orang II :
"Kalender gratis untukmu.
Pilih gambar itu, ya?"

Orang III :
"Bandana gratis untukmu.
Dukung partai anu, ya?"

Orang IV :
"Sedikit sumbangan untukmu.
Ingat selalu dari siapa, ya?"

Orang V :
"Bingkisan sederhana untuk keluarga.
Jangan lupa besok pemilu, ya."

Waktu pemilu memanggil massa
Karjo mencoblos logo kelimanya *

"Jujur, adil dan akur," pikirnya

***
babarsariyogya, 14 maret 2004

*) mencoblos lebih dari satu gambar berarti golput (golongan putih)?



Doa untuk Pemilu

Tuhan,
andai kutahu apa partai-Mu
kuingin jadi simpatisannya
berkampanye sebut Nama-Mu

Tuhan,
andai kutahu apa partai-Mu,
besok pemilu ku ‘kan coblos
logo kesertaan partai-Mu itu

sudikah Kau jadi Presiden R.I. ?

***
babarsariyogyakarta, 19 maret 2004


Ketika Kampanye Kerahkan Kantong Kosong

Pada kampanye pemilu, calon pemimpin
Digelar meriah pada tahun tertentu
Bersolek berjutajanji sihir nurani

: Habis masa jabatan, buatkan janji lagi

Pada kampanye cinta, calon kekasih
Digelar gencar pada masa pertama saja
Berlaksa laksajanji hujani harihari

: Selera berganti, janji jadi sakiti hati

***
babarsariyogya, 25 maret 2004


Sajak untuk Sang Aktor
: untuk Widihasto Wasana Putera

Satu
1996

mengintip demokrasi lewat lubang humor
mari sejenak lupakan lukadera rezim orba
kita candai tirani bersamasama
jaya jamujago suprana
gm oom pasikom sudarta
permadi paranormal sh
darmanto budayawan djatman
syarifudin
sosoksosok tercetak dalam souvenir berbingkai

kau paham maknanya?

menulis mengubah dunia
mari bergabung, wahai adikadik tercinta
rangsang naluri taruna meliukkan pena
bergerak lugas, bedah bentenghegemoni
karena pena lebih tajam daripada pedang *

kau paham maknanya?

pers kehilangan suara
mulutmedia diberangus semenamena
tempo di-k-o
editor di-dor
detik dicekik
kepalan kita menerjang angkasa
menantang mentari hampir tengahhari
bebaskan kata dari ancaman penguasa
kawankawan perankan drama sebabak
disaksikan priapria berkacamatakuda
rambut cepak, badan tegap
sebentarsebentar kirim berita via handytalky

kau paham maknanya?

turunkan tarif pendidikan
anti konspirasi
anti eksploitasi
anti basabasi
teriakan kita membahana ke awan pucatpasi
kawankawan bikin sandiwara lagi
elit kampus mengernyit jidat, keki

kau paham maknanya?

dan pergulatan darahmuda
meninju kebusukan sistem
menendang kebobrokan struktur
dengan tak lirik intrik intimidasi
dalam riuhrendah perbincangan di handytalky

hanya ada satu kata: lawan! **

dua
1998

reformasi jogja bisa repot mati
tanpa tongkat terangkat dari tangan kekarmu
pimpin intelektualmuda gelar parlemen jalanan
di pembuluhnadi utama kota pelajar
dibakar matahari, dihujam hujan
tanpa jeda runding, tanpa rekakompromi
jungkalkan kursibesi rezim zalim
hingga namamu terpatri dalam legenda
reformasi kota budaya yang berterimakasih

: widihasto wasana putera

tiga
2004

keringatdarahnanah jiwaraga telah kauhibahkan
pada pertarungan politik bercampur mesiu
tekadbaja, semangatbara
solidaritas tiada batas sara
konsistenitas tak jua surut dalam kantong
realitas tanpa pepesan kosong
entaskan kakimu tapaki jalan sejati
berpolitik praktis sepenuh hati, segenap hidup
berdiri kau kini di singgasana para punggawa jogja
“serahkan Indonesia pada kaum muda.”

: widihasto wasana putera, calon legislatif termuda

empat
saat sekarang

kucatat ceritasingkat jejak kita berjabaterat
lepas dari niat menjilat, itikad patgulipat
tepis asumsi mengemis jatahsahabat

anggaplah ini sekadar puingprasasti
kala kita masih bukan siapasiapa
di tengah kerumunan macan lapar nan rakus
beserta antekanteknya jilati telapakkakisemar

sengaja kucatat ini sebelum langit lalai
simpan satu noktah risalah sejarah

kau paham maknanya?

lima
kelak

janjijanji bisa malah parahkan lukalama di hati
luka tak terobati bisa jadi infeksi
ujungujungnya bagian diri bisa diamputasi
duduk di kursiempuk sungguh enak sekali
tapi jangan sampai lupa diri, abaikan nurani

seringseringlah beranjak, jelajahi aliranairmata massa
seperti dahulu ketika kita berbaris di babarsariraya
rakyat telah berkarat menanti kepedulian hakiki
impian jadikanlah nyata, idealisme jangan mati

kuharap kau senantiasa sehat hingga masa rehat

***
babarsariyogya, 26 maret 2004

*) saya lupa, siapa yang mendeklarasikan “pena lebih tajam daripada pedang”.
**) kita cuplik dari puisi “Peringatan” karya Wiji Thukul (1994) sebagai credo demontrasi.

Peringatan *

Jika calon sastrawan pergi
Ketika politikussastra berkoar
Kita harus hatihati
Barangkali mereka kecewa

Kalau calon sastrawan bersembunyi
Dan berbisikbisik lewat media lain
Ketika membahaskan masalahnya sendiri
Politikussastra harus peka dan buka telinga lebarlebar

Bila calon sastrawan berani mengeluh
Itu artinya sudah gawat
Dan bila omongan politikussastra dianggap sabda nabi
Intelektualitas dan kreativitas pasti terancam

Apabila gagasanbaru ditolak tanpa ditimbang
Karya pemula dibuang, kritik tidak diindahkan
Dituduh sastrasampah dan merusak kemapanan sastra
Maka hanya ada satu kata: lawan!

***
babarsariyogya, 28 maret 2004

*) Parodi puisi “Peringatan” karya Wiji Thukul (1994)



Sajak dari Pinggir Jalan Raya Babarsari

1.
kembangkembang plastik
pinggiran jalan babarsari
berkelopak lebar oranye
melahap badan trotoar
ketika mentari turun tahta
sebelum senja siap berpesta

kembangkembang plastik
mekar meriah cahaya buatan
bercelah satu bercelah dua
untuk melahap perut parakumbang
ketika mentari tenggelam
lautlangit merata kelam

bulan, bintang, meteor
kapaludara sipil, pesawattempur tentara
kelelawar, kalong, serangga
kodok, kucing, kadang ular
menyaksikan senyum kembang
semerbak aroma pikat lidah kumbang

kumbangkumbang kembungkempis
berhenti kelana, hinggap sejenak
masuki celahcelah cahaya
berjejer di pinggir mejapanjang
bercengkerama dengan suasana
di bawah siraman cahaya

2.
tuhan adalah perut
kepadanya mereka bersujud
tak peduli hak siapa direbut
ke mana pula kaki kalangkabut

tuhan adalah perut
laba adalah pahala
mulut melahap badantrotoar
muntahkan para pedestrian

kakikaki kehilangan haknya
alur langkah keluar peta
tertatih lirih di tepi jalan
bersaing dengan lajukendaraan

tepi jalan dihadang badan kendaraan
pedestrian diancam kerasnya karet besi
yang kencang saling mengejar
lampulampu lincahberlarian

tuhan tinggal di perut
perut pemilik kembangplastik
perut keluarga di kampunghalaman
perut para perantau

surga tercipta di trotoar
taman subur makmur bagi mereka
surga pun dibangun di kampung
tapi para pedestrian diintai celaka

3.
kembangkembang plastik
subur tumbuh di trotoar babarsari
goda selera perut kumbangkumbang
gadaikan kakikaki yang berhak

kumbangkumbang kekenyangan
kembangkembang kegirangan
pemarkir dan pengamen bernyanyi
di trotoar, tamansurga mereka

4.
kembangkembang plastik
mengatup kelopak oranyenya
melebari bentang badanjalan
lalu digulung, digeletakkan
bersama tangkaitangkai
vasvas kayu teronggok di trotoar
ketika bulan kian letih
lampulampu satudua berlari
para kumbang tinggal di sarang

5.
tuhan adalah perut
bertahta pula di dalam tabungan

peraturan adalah permenkaret
diterapkan atas dasar kepentingan

perut, tabungan, peraturan, kepentingan
bermain bersama di taman trotoar babarsari

***
babarsariyogya, 28 maret 2004




Perut Adalah Panglima

Perut adalah panglima
Pikiran adalah prajuritnya

Tarian perut adalah pertempurannya
Nyanyian periuk adalah tetabuhannya

*******
babarsariyogya, 31 maret 2004




Kemunafikan Intelektual

Komoditi itu terdiri dari
Pencurian
Perampokan
Penodongan
Pemalakan
Pemerasan
Perampasan
Pembunuhan
Penganiayaan
Pemerkosaan
Percabulan
Perzinahan
Perselingkuhan
Pelecehan
Penggelapan
Penyelewengan
Penipuan
Penghasutan
Pemfitnahan
Perseteruan
Pungutanliar
Dan kejahatan lainnya
Digoreng dalam wajan media massa

Hmmm… sedap sedap sedaaap
Sajian biasa atau istimewa siap disantap

Namun apakah para koki dan pengelola
Media massa berslogan mulukmeliuk itu
Sama sekali tidak pernah melakukan
Tindak kejahatan yang mereka sajikan

Wahai media massa
Jangan merasa diri paling suci
Karena berjubah sloganslogan
Sebab slogan hanyalah slogan

Kontrol sosial
Agen perubahan
Media pencerahan
Serta sloganslogan selangitlainnya

Jaman kini nabi sudah tidak ada
Manusia pun jelas bukan malaikat
Maka, bagiku, selagi manusia mengelola apaapa
Busuk tetaplah milik semua, cuma kadar beda

Yang terpenting bukan kebenaran
Melainkan isi kantong jangan kosong
Kebenaran hanya siasia belaka
Jika kantong selalu keringkerontang

Yang terpenting bukan kejujuran
Melainkan isi rekening makin banyak
Kejujuran itu percuma saja
Jika rekening bersaldo angka melongo

Yang terpenting bukan kebaikan
Melainkan daftar kekayaan membengkak
Kebaikan itu berbeda tafsir bagi orangorang
Tapi kekayaan selalu satu jadi fakta di mata

Mari kitatanggalkan jubah dari sulaman slogan
Sloganslogan bisa muntahkan realitas sejati
Sebab sesungguhnyalah kita ini zombi bergengsi
Diri yang busuk, oranglain ditudingtudingkan

Lihatlah penjahatpenjahat yang berani
Jujur pada dunia bahwa mereka penjahat
Tak sungkansungkan berlaku apa saja
Demi hidup yang mereka sadari benar

Penjahat sejati tak akan berkedok jabatan
Tidak memakai gelar akademisi apaapa
Turun ke jalan dan mewarnai wajahdunia
Tak perlu berslogan sucitapibusuksekali

Hmmm… sedap sedap sedaaap
bumbu media massa sungguh mantap

*******
babarsariyogya, 31 maret 2004




Orang-orang Muda Persimpangan

mereka berseragam oblong legam
selalu berkerumun di sana
bergurau menggulung malam
berpencar kala dini beranjangsana

***
babarsariyogya, 19 maret 2004



Ceramah dan Cermin

Ceramah fajarmu terdampar
Pada palung hatiku becermin

: cermin untuk apakah?

* * *
bumiimaji, 4 februari 2004



Ada Apa Dengan Hujan

Ada bingkisan gerimis
Mengikis seringaisinis

Ada hadiah hujan
Menghapus hauskehidupan

Ada hikmah banjir
Mengusir kerakusanjiwa

* * *
bumiimaji, 4 februari 2004
Apakah itu Cinta?

Ketika suatu cinta seumur selera syahwat,
Maka saat jenuh, cinta ditinggal minggat
Mungkin kawin lagi, selingkuh, pegat
Dingin, cekcok pun tak bisa terlewat

Apakah itu cinta bermartabat?

***
babarsariyogya, 18 maret 2004



CINTA SEJATIKU CUMA UNTUKMU

1.
dengan beberapa perempuan, kubagi nafsu
tapi cintasejati kupersembahkan untukmu

2.
perempuanperempuanku merengek selalu,
“nikahi kami, meski maharmu cuma nafsu.”

3.
kunikahi mereka atasnama nafsu menggebu
jerat zinah terhindari, apibirahi menyala biru

4.
nafsu itu anginlelakiku, cintaku kamu saja
anginku lalu, raup raga perempuan lainnya

5.
dengan perempuan baru, hanya kuberi nafsu
cintasejatiku tetap padamu seorang, dindaku

***
babarsariyogya, 7 april 2004



Puisi Nafsu Melulu
: untuk siapa ya?

Bila aku masih bernafsu padamu
Berarti cintaku masih ada untukmu

Bila aku tak lagi ngiler lihat dirimu
Berarti cintaku tidak ada lagi untukmu

Kalau kau salahkan cintaku begini
Berarti kau tak paham siapa diriku ini

Kalau kau salahkan diriku begini
Berarti kau tak paham apa cinta sejati

Camkan! Tuhanku adalah nafsu berahi
Agama di katepeku sekadar katasunyi

Camkan! Kita berdua hanya manusia biasa
Kawin demi nafsu, cerai sebab bosan saja

***
babarsariyoga, 7 april 2004




Puisi untuk Mantan Suami Lupa Diri

Kau lupakan bekas istriistrimu
Apalagi anakanakkandungmu
Hanya demi kepuasan nafsu
Dan pemenuhan egoismemu

Kau buatkan puisi biru mendayu
Untuk perempuan ini, juga yang itu
Hanya demi legakan hasrat menggebu
Dan kesombongan atau hargadirisemu

***
babarsariyogya, 7 april 2004




KEPADA KAKEK BERMUKA BONGPAY

Ketika estetika katakata seperti
Tudingan keji tardji atas puisi rendra
Sementara estetika katakata hanya
Terbitkan banyak serta beda tafsir,

Maka, aku berterusterang saja.
"Wahai Kakek berwajah bongpay,
Ingatlah pada akadpernikahanmu,
Pada kesetiaan istrimu sekarang,
Bekas bini, mantan perempuanmu,
Mungkin mantan anakanakmu!

O Kakek yang berbedak tanah,
Malaikat maut siaga menjemput
Dirimu masih sibuk punguti perempuan
Dirimu masih sibuk jilati perasaan
Perempuan dengan kautawarkan
Dada keriputmu, beludru tandus
Dan berangka tulanglapukmu.
Apakah cermin sudah pecah,
Urat malu telah putus,
Album foto keluarga musnah?

O Kakek yang sebentar lagi
Akan berlumur parfum formalin,
Engkau makin tua makin jadi
Kucing garong tak pernah kenyang
Di depan matamata kaupamerkan kuku
Di belakang kaupasangkan puisisihirmu
Kepada perempuan selain istrimu.

O Kakek yang mencandui cabul
Cintamu berpusat pada syahwat
Kasihsayangmu adalah birahi semata
Kalau orang juluki kau budayawan
Sejatinya engkau buayawan bongpay."

Ketika panggilan kekal dari lianglahat
Menjelma jerat yang merasuki
Batang asap lalu menghisap segenap
Sisa nafasmu dalam paruparu rapuhmu

: Mawar plastik taburi pusaramu

* * * * * * *
bumiimaji, januari 2004





Pelangi Patah

Pernah kulihat pelangi patah
Di selatan kelapa kala senjarebah
Aku sempat terperangah
Pertanda apakah

Satu semester terjawab sudah

*******
babarsariyogya, 10 maret 2004



Gombal

kanvas cinta dari bahan gombal
cat dan kuas tak bisa maksimal

bila alur lukisan lantas terjegal
kurasa hal itu bukan salah soal

kanvas cinta berbahan gombal
tak jadi soal jika lukisan gagal

*******
babarsariyogya, 10 maret 2004




Bercermin Pada Bongpay

Aku pernah melihat sekeping bongpay
Dari pualam legam pantulkan bayang

Kurasa kakek patut bercermin di situ
Sebelum rayu perempuan selain istri

* * * * * * *
bumiimaji, januari 2004

Orang Bilang Apa yang Bisa Kukatakan

Orang bilang aku ini bajingan
Kataku, biarkan saja bilang apa

Orang satunya bilang aku urakan
Kataku, sukasuka dia

Orang sebelahnya bilang aku kekanakan
Kataku, dia sudah dewasa

Orang lainnya bilang aku cari perhatian
Kataku, siapa pun bebas menerka

Kemudian apa yang bisa kukatakan?
Tuhan Maha Tahu segala

***
babarsariyogya, maret 2004




Kata Orang pada Puisi

Orang 1 : “Puisimu adalah belati.”

Orang 2 : “Puisimu adalah duri.”

Orang 3 : “Puisimu adalah lukamu.”

Orang 4 : “Puisimu adalah pusingmu.”

Orang 5 : “Puisimu tak kubaca.”

*******
babarsariyogya, 13 maret 2004




Sajak Tak Perlu Pembuktian Dirimu
: eksistensialis

Lakukan apa yang kau mau dan mampu
Bukan lantaran demi suatu pengakuan
Tak perlu kau buktikan dirimu siapa
Sebab dirimu sudah ada sejak semula

Tuhan tahu kau siapa dan bisa apa
Tuhan bangga padamu seperti apaadanya
Kemuliaanmu ada karena pantulan-Nya
Tapi dunia mana tahu siapa kau bisa apa

Kalau kau tahu sebenarnya asalmu
Dan kelak akan kembali pada asalmu
Maka mataegomu akan terbelalak
Bahwa pengakuan dunia siasia belaka

: selamat berkreasi!

***
babarsariyogya, 1 april 2004

Wednesday, February 04, 2004

Damai Itu Indah Dalam Media

Damai itu indah
Damai itu indah

Dendangkan saja
Bersenandunglah merdu

Damai itu indah
Damai itu indah

Dengungkan terus
Bergemalah dalam relunghati

Indah itu impian
Indah itu impian

Dengarkan seksama
Bersimpangsiur dalam media

* * * * * * *
bumiimaji, 3 februari 2004

PUISI BUSUK

Siapa penyandang gelar politisi busuk
Pada paruh dada bayangbayang orang

Siapa pematok rambu partai busuk
Pada pagar pelataran bangunan buram

Siapa penyebab upacara pemilu busuk
Pada pigura lukisan balairung murung

Siapa penulis papan peringatan busuk
Pada pecahpandangan kebangsaan kita

Siapa? Siapa? Pembisik busuk?
Tusukkan kebusukan, rasuki kebisuan

: Minyakwangi menari di mejahijau

* * * * * * *
bumiimaji, 3 februari 2004

Thursday, January 01, 2004

2004 Patgulipat

2004 yang baru kubuka bungkusnya
ada apa dengan fajar mekar berpijar
meramal nasib seperti suatu tuhan

2004 yang sudah menetaskan embun
kokok ayamjago dan kicau kenari
tetap sama atau masih misteri

lalulalang mentari dan rembulan
putarpulang jarum jam
angingunung anginlaut

berkecambah, berbatang, berdaun
berputik, berbunga, berbuah
berguguran, berserakan

kerbau kembali ke kubangannya
anjing kembali ke muntahannya
serigala kembali ke liangnya

mimpi. imaji. fantasi
prediksi. proyeksi.
evaluasi. koreksi. .

2004 terjadilah apa yang semestinya
biarlah yang terjadi sesuai adanya
debu menjadi debu, abu menjadi abu

: 2004 patgulipat

* * * * * * *
bumiimaji, 1 januari 2004

Setiap orang berpikir mau mengubah dunia,
mengubah umat manusia.
Hampir tak ada seorang pun berpikir,
bagaimana mengubah dirinya sendiri
.”
(Anselmus Kahan, 1999:217)


Sunday, December 21, 2003

Ada Gunung Mengerami Matamu

seseorang mendatangiku dan menghakimiku:
“engkau, agustinus, telah menodai agama.”

aku tidak terkejut apalagi kalangkabut

dia melanjutkan dengan alasanalasannya :
“engkau, agustinus, menganjurkan sesat
engkau suruh mereka membuang tuhan
engkau bujuk mereka melanggar larangan
engkau ajak mereka menghujat nama tuhan
engkau lantas kegirangan atas semua itu.”

boleh aku mengeluarkan gunung di matamu?

*******
bumiimaji, 20 desember 2003

Pada Mulanya Adalah…

Katakata mencipta menjadi ada
Katakata mencipta menjadi tiada

Katakata mengagungkan nama suatu tuhan
Katakata membumikan kesukaan setansetan

Katakata mendamba surga serba sejuk
Katakata menikmati neraka yang nyaman

Katakata mengirimkan berjuta doa
Katakata mengumbar sumpahserapah

Katakata mengungkapkan apa adanya
Katakata membungkusnya dengan tipudaya

Katakata membuat jalan lurus
Katakata membelokkan jalan itu

Katakata mewarnai kekhusyukan
Katakata menghiasi kebusukan

Siapakah yang menciptakan kemunafikan?
Siapakah yang menciptakan kearifan?

Satu saja jawabnya: kata-kata

Maka, apa katamu?
Mari kita bermain kata

*******
bumiimaji, 20 desember 2003


*
ia
ada
pada
jaman
munafik
menjabat
posisiutama
dalam
birokrasi
keagamaan
bangsa yahudi
danjuga
selingkuh
dengan politik
imperialis roma
yang amat merajalela
dibawah gubernur herodes
ia ada
menyiarkan
kabar bahagia
bagi para pendamba
kesejatian jiwa manusia
bukan sekadar identitas sunat
ritual sabat
ampun bagi pelacur
hingga wajib bayar pajak
sebagaimana hakikat realita
bukan ayatayat patgulipat yang
senantiasa digembargemborkan oleh
corongcorong para pemuka agama yahudi
ia malah
difatwa
penyihir
penyesat
penghujat
penjahat
oleh suatu
konspirasi
(selingkuh)
teologistik
dan politik
ada khianat
demi suatu
kepentingan $ $ $ * * * ^ ^ ^
yang akhirnya ditindaklanjuti
oleh pontius pilatus sebagai ganti
atas imbalan simpati pemuka yahudi
yang munafik tapi tak punya hati dan nyali

~~~~~~~~
ayam
~~~~~~~~
jago
~~~~~~~~

hukuman mati dengan cara sangat memalukan diantara hukuman bangsa itu
: salib
: mampus!

---------------------------------
ayam jago
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

tak nyana di bangkit
seperti apa janjinya
berpesan pada murid
sampai kemudian ia
kembali pada langit

^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^

ia memang hanya terlahir di sebuah kandangternak
ia memang kemudian mati dengan tidak terhormat
ia memang bangkit mengalahkan logika akalsehat

& * $

t
i
k

t
i
k

t
i
k

harilahirnya begitu meriah
lagulagu khusyuk bergema
isi gereja meluber sampai
jalanjalan mengalah saja
tidak seperti sabat biasa
yang biasanya menyisakan
kursikursi beku meranapilu
ditinggal pantat umat yang
terbawa tuntutan jiwasepi
mencari tempat weekend

harilahirnya begitu meriah
biarpun hujan deras tercurah
mobilmotor melimpah ruah
parkiran tersita jumlah umat
jalanjalan digerogoti rodaroda
diamdingin menanti majikan
menikmati natal setahunsekali
atau juga paskah setahunsekali
di gereja untuk duakali setahun

t
i
k

t
i
k

t
i
k

religiusitas napas, natalpaskah
religiusitas kafekafe, pestapora
religiusitas kelamin, seksbebas
religiusitas alkohol, narkoba
religiusitas pedang, hausdarah
religiusitas senjata, amunisi
religiusitas gengsi, pongah
religiusitas rakus, serakah
religiusitas memujadirisendiri
religiusitas memujamateri
religiusitas bias dan tempias

malam kudus hanya satu malam
malam kudis adalah ratusan malam
cemara yang bertabur lampumungil
tak menerangi jalanjalan malam lain

quasi
quo vadis
quo animo

t
i
k

t
i
k

t
i
k

ia hanya lahir sekitar duaribu tahun lampau
di kandangternak, dalam palungminuman
kini ia tidak pernah lahir di hati semua umatnya
tidak seluruh hati umatnya sudi menampungnya
ia tertampung dalam selembar kartupenduduk
demi suatu kepentingan, asal tidak dicap atheis

apakah di surga ia akan menarinari oleh lagu dan musikmu ?
apakah di sana ia berbahagia atas ucapan “happy birthday” ?

*******
bumiimaji, 21 desember 2003

Hati Berisi Apa Sih

Adakah sumber airtawar memancar airasam?
Adakah parfum mengepulkan aroma bangkai?

Hati adalah bak penampungan segala yang ada
Hati adalah taman bagi segala makhluk dunia

Mulut adalah pintu keluar dari apa isihati
Gerakan adalah hasil suasana dari dalam hati

Pengendalian diri tak lebih dari pintuirigasi
Suatu saat bisa meluap menjadi banjirbandang

Katakata indah hanya kesan pertama
Selanjutnya adalah katakata pantulan patihati

Bisakah sabdatuhan bercampur suarasetan?
Bisakah katakatanabi bercampur nguikanbabi?

Kita sengaja memakai sabdatuhan dan suarasetan
Sematamata karena suatu kepentingan bilikhati

Ada yang ingin disebut baikhati berbudibijakbestari
Tapi jika moralnya bejat, mohon bisa dimengerti

Adakah mataairtawar menyemburkan air asin?
Adakah parfum mengeluarkan bebauan bacin?

: dalam hati ada mendung dan pelangi

*******
bumiimaji, 20 desember 2003

Saturday, December 20, 2003

Malam Kudis

Malam kudis, sunyi sinis
Bir bintang, gembira
Jurus sesat mausial
Sudah turun dari syuga…

Kita terus menyanyikannya
Meluap-luap penuh roh kudis
Kita pun menari kesana kemari
Sudah naik menuju dunia riaria

Kita memang orang-orang terang
Bicara tanpa perisai kemunafikan
Berbuat tanpa terkekang aturan
Mari kita habiskan malam kudisan

*******
bumiimaji, 20 desember 2003

Tuhan Tidak Ada Di Sini

Siapa yang menyanyikan lagu jingle bells itu?
Untuk apa ia membuang suara pada langit?
Apakah supaya orang menyebutnya….?

Ah, tuhan tidak ada di sini, kawan
Tuhan sudah mati dalam pengap sebuah kitab
Ajaran dan anjurannya sudah kadaluarsa

Kamu tak usah pura-pura tak paham
Kini tuhan adalah tepuktangan, decaktakjub,
Karier, tahta, harta, syahwat, serba enakenak

Siapa yang menyanyikan silent nite itu?
Untuk apa ia membungkam dunia gemerlap?
Apakah supaya orang menjulukinya….?

Ah, tuhan memang bisu tuli, kawan
Bahkan kabarnya tuhan hanya tokoh fantasi
Penghias bibir pendeta, pastor, bruder, suster

Kamu pasti lebih percaya pada realita
Bahwa tuhan yang hidup adalah kenikmatan
Kebebasan, kepuasan, kesenangan, kegilaan

*******
bumiimaji, 20 desember 2003

Malam Meriah Lebih Gairah

Mingguminggu jelang tanggal merah
Mereka berduyunduyun menuju gereja
Mendekap buku tebal sambil bermazmur

Sebatang pohon cemara nongkrong di muka
Kelap kelip lampu mungil bergelantungan
Lagu Malam Kudus menghiasi ruangan

Natal sudah tiba, ulanghari sang raja segalaraja
Orang orang bersujud mengucapkan syukur
Memujamuji dengan paduan merdu membahana

Natal mengantarkan langkah menuju tahunbaru
Meriah kembang api menggoresi cakrawala kelam
Lebih meriah gairah kita berpesta tuak dan kelamin

*******
bumiimaji, 20 desember 2003


Kami Bukan Hamba Tuhan Itu

bintang timur menunjukkan pondok kumuh
yang menampung letak tubuh mungilmu
tenteram di kasur jerami dalam palung minum sapi

engkau lahir di kandang sapi yang jauh dari hotel
yang kami pakai untuk kumpul kebo dan
kami begitu liar merenangi berahi di kasur busa

ada yang bilang engkau nabi, ada yang bilang tuhan
kami tidak peduli julukan apa pun tentangmu
kami hanya ingin puas hidup di dunia fana ini

dia pernah mengajarkan hukum kasihtakbersyarat
kami suka menjalankan hukum pilihkasih, diskriminasi
dengan syarat timbalbalik dalam wujud apapun

hukum kasih kami tegakkan dengan senjata dan duit
cintakasih mudamudi kami terjemahkan dengan coitus
bagi kami, inilah hukum kasih yang paling sejati

kami bukanlah hamba tuhan itu, wahai alam semesta
tuan kami adalah nafsu berahi, pongah, serakah, kejam
kami bahagia melakukan segala titah tuan kami

kami berterusterang padamu, wahai matamatabaca
junjungan kami bukanlah Yesus orang Nazareth
junjungan kami bernama iblissetan dari neraka

memang kami punya gedunggedung gereja modern
tata ruang dalamnya berasa istanaistana raja nan megah
tapi kami sosok zombi dalam makammakam mewah

sebentar lagi angka dualima tiba di almanak kami
katanya ulanghari sang nabi yang entah dari mana itu
biarlah, sebab kami sudah puas pada pesta tuan kami

*******
bumiimaji, 20 desember 2003

Wednesday, December 17, 2003

Masih Adakah Tuhan?

sebaiknya kita jujur pada kenyataan
alasanalasan hanyalah selingkuh pikiran
susahsusah menyusun dalil pembenaran
ujungujungnya tetap nikmat berkelaminan

jika tuhanmu telah menciptakan sebuah dosa
atas perkelaminan tanpa akadnikah yang sah,
maka buang saja tuhanmu itu ke tong sampah
agar perkelaminan itu menjadi lumrah meriah

: kemunafikan adalah kutukan

*******
bumiimaji, 16 desember 2003

Surga Itu Ada

“Surga itu memang ada!” seru seorang perempuan yang selama ini taat beribadah. “Aku telah membuktikannya.”

“Oh ya? Kapan kau ke sana?”

“Usai berdoa.”

“Wah, doamu terkabul dong?”

“Begitulah. Seorang utusan tuhan datang. Usai berdoa, kami berdua menikmati surga itu!”

*******
bumiimaji, 16 desember 2003

Usai Doa Tiada Dosa
: penyair, perempuan dan pergumulan

doa baru saja kita tutup dengan kata amien
segera tanggalkan pakaian masing-masing

“mari kita nikmati. tuhan tidak ada di kamar ini.
tuhan langsung pergi usai kita amienkan tadi.”

“ya, kekasih, tuhan kini sedang mabuk pujapuji.
mungkin subuh nanti baru tuhan meminta lagi.”

rembulan dan bintang terbuang di luar ruangan
deru nafas kita merayapi seprei dan tepian badan

“perempuanku, tuhan memang keterlaluan.
membuat larangan padahal itu kenikmatan”

“penyairku, puisi tidak sudi peduli larangan.
kepuasan jiwa adalah satusatunya tuntutan “

sujud kita berganti saling memagut penuh bara
ranjang goyang adalah ajang menyenangkan

“perempuanku, engkaulah syairku
tubuhmu adalah panggung puisiku.”

“penyairku, engkaulah tuan hasratku.
sentuhanmu adalah tarian syahwatku.”

dosa sebelum doa melulu lahirkan tangis
dosa setelah doa justru terasa nilai seninya

: tuhan tidak pernah menginap di hotel

*******
bumiimaji, desember 2003

Persembahan Perempuan Pada Penyairnya

Penyairku yang mengerti segala kata dan hati tuhan
Aku telah datang dan hidangkan suatu persembahan
Bukan emas
Bukan permata
Bukan benda-benda
Tubuhku adalah sesaji utuh

Tubuhku untukmu, penyairku yang bersabda tuhan
Engkau boleh menyeduh tubuhku hingga subuh bersahutan
Cicipi
Nikmati
Puaskan diri
Badanku adalah baktiku

*******
bumiimaji, 16 desember 2003

Angin Menggiring Jemari

aku baca orang orang pandai
berbantah berbantai berkelai
tentang kata kata
tentang sabda agung

: teriak paling lantang, menang

kebebasan yang kebablasan
atasnama kreativitas bias
telanjang membawa ranjang
coitus menjurus fokus kultus

: anjing keranjingan kawin

norma dan kaidah sudah sampah
tata susila disingkirkan entah
halal haram ditikam karam
estetika beretika diterjang jauh

: kontemporeritas getas

aku baca orang orang pandai
bersilat kata berselisih fasih reda
tiba tiba berlingkaran putih di kepala
sepasang sayap merpati di punggung

: iklim mengirim takzim

mereka buka kembali keping kitab tua
yang terpelanting di lobang toilet
topeng topeng tafakur
bopeng bopeng takabur

: kalimat tobat geliat sesaat

maka aku akan di sini membaca
angin menggiring ingatan
musim mengajari jemari
tentang kefanaan nafas
tentang keabadian mimpi

: tunggu usai masa bersalin

*******
bumiimajibarsari, november 2003

MATIKAN MIMPI

matikan radio di mulut-mulut wakil kami
matikan televisi di muka-muka wakil kami
lipatkan kertas-kertas di tangan-tangan mereka
biarkan kami tidur di atas kasur penuh syukur

***
jogja, desember 2001

WAKTU

Matahari belum turun;
Unggas masih riang berpantun
Tapi bulan sabit rabun
menancap di ubun-ubun

Anakku menangis olehnya
Anakku kesakitan olehnya
Anakku hampir mati olehnya
: anakku, biji mataku

Matahari belum mengantuk
Manusia belum selesai bermain
Anakku masih asyik dengan dunianya
Tapi bintang telah meninabobokkan
: bintang, biji mata langitku

Selamat datang ketergesaan hari
: sambutan ini anggaplah undangan

*****


TERBIT DAN TERBENAM

Halaman samudera
Bukan lagi wangkang
Bukan kolek raksasa tergolek di sana
Tapi kapal keruk, berdiri sendiri
Siang malam diantara kesibukan alam

Kapal keruk masih merogoh
Diantara terumbu-terumbu karang
Memilah keringat, memilah berkat,
menguras lumbung-lumbung harta
mengais, meraih mutiara

Kapal keruk masih di sana
Sejak kepergianku
Sejak matahari silih berganti
Sejak bulan aneka wujud

Kapal keruk masih di sana
Mengangkat mentari agar terbit
; tetap mengangkat silih berganti
tapi terumbu karang telah terbenam
: makam-makam liar di halaman samudera

(aku mau pulang, mau melayat dirimu)

*****
Yogyakarta, 26 Februari 2000

Perubahan

Kanvas menyelimuti jiwa tak bertuan
gelap memerangkap,
terjerembab senyap

Plesir di air berpasir,
memijat pesisir
Gelora sukacita bahari
mati suri
Dalam dialog belukar,
Dalam ritme liar
Dalam pesta ular
Dalam budaya vulgar

Akar-akar berkelakar
Sukar dibakar
Tapi api yang melahap sekam,
Jangan siram jadi padam
Diantara geram dan dendam

(garam-garam kenapa masam?
Selidiki saja apa kata pendeta)

*****


KUPANGGIL: KEJUJURAN

Wahai, Engkau kejujuran,
sudilah menyirami bumi
membasuh nurani kami dan anak kami
supaya tiada tumbuh debu-debu kata
tiada terpahat retak-retak batin

Wahai, Engkau kejujuran
Sudilah memenuhi pundi-pundi jiwa kami
Berlimpah-limpah tanpa sumpah serapah
Demi pengagungan tak henti kepada Yang Maha Benar.

***
Yogyakarta, September 2000

KONTRADIKSI

Petani di pulauku: pandai-pandai
Melestarikan dongeng-dongeng kehidupan
Menanam warisan nenek moyang,
Merawat tradisi turun-temurun

Petani di pulauku: setia-setia
Badai-badai kehidupan diterjang
Hiruk-pikuk alam diakrabi
Jatuh-bangun adalah ujian

Akhirnya mereka panen untaian mutiara
Para pemudanya turut melenggang
berdendang riang bersama petani


Ada pegawai di kotaku: kehabisan akal,
jadi gila, jadi stress
jadi pengutang,
jadi koruptor


Ada pemuda kehilangan budi
menuding sana-sini
menungging perut kering
menggenggam kantong kosong
menggigit terjepit duit
menjarah, mencuri, menjual diri


Aku ingin belajar sebijak petani,
Supaya kutuai permata cinta,
lebih daripada mutiara-mutiara tadi

***
Yogyakarta, 27 Februari 2000

This page is powered by Blogger. Isn't yours?